AbdulAziz

Su’udzon dan Toleransi

Posted in inspirasi by Abdul Aziz on January 12, 2008

Jum’at pagi, aku pergi dari Wahai menuju Masohi (ibu kota Kabupaten Maluku Tengah), jaraknya sekitar 180 Km dengan membayar ongkos angkut Panther Rp. 125.000. Perjalanan melalui Pegunungan SS. naik turun dengan tanjakan dan kelokan tinggi yang cukup melelahkan, sekitar 50Km jaraknya, dengan waktu tempuh satu jam lebih. Jalan pintas ini masih baru sekitar tiga tahun ini dibuka, sebelumnya untuk pergi dari wahai ke Masohi harus melaui jalur laut–naik speedboat ke Saka, baru naik mobil minibus Mulya Express (bersama kambing dan semua hasil bumi–berjubelan—sebuah pemandanagn khas Indonesia Timur).

Jam satu siang, aku sampai di Masohi.Langsung menuju Kantor Cabang BRI Masohi–dapat nomor antrian 281, aku lihat di antrian baru mencapai angka 111 yang sedang dilayani–oleh seorang petugas teller saja. Hari itu aku harus transfer ke Surabaya untuk pembelian unit trukguna menunjang bisnis kami di Maluku. Harga angkutan di Maluku Tengah luar biasa mahal. Sehingga harus kami putuskan untuk beli angkutan truk dari Surabaya. Selisihnya lebih dari 30jt dibanding dengan harga Surabaya. Jam 5 sore, aku baru bisa dilayani oleh teller (sungguh menyebalkan, pekerjaannya lambat sekali). Namun, aku bersyukur, karena masih dapat dilayani, sehingga tidak harus menginap lagi. Toh, hari Sabtu juga libur, bank tutup.

Sepulang dari Bank BRI, aku cari angkutan menuju Sawai, tempat dimana aku mulai merintis usaha laut di Maluku. Jaraknya sekitar 150Km, tapi lebih dari 100Km adalah hutan belantara, hutan Seram. Aku cari kendaraan di sekitar terminal Masohi dan depan penginapan Raudla,tempat dimana mobil Sawai,Wahai dan Kobisonta mangkal, akhirnya aku temukan juga, mobil taruna milik pak Haji– minta ongkos carter 500ribu, oke aku sku setujui. Untungnya ada dua penumpang yang mau pergi ke Ara-Ara (daerah usaha  budidaya tambak intensif modern yang dikelola PMA Jepang PT Nisshui Indonesia, dulu dikelola oleh Djayanti Group–sebuah perusahaan kroni Soeharto). Jadi, kami urunan bertiga. Tapi dengan perjanjian, aku hanya diantarkan sampai pertigaan Sawai, karena jalannya menuju Sawai dengan jarak 6,5 Km tidak dapat dilalui oleh kendaraan semacam Daihatsu Taruna. Lagi-lagi, aku setuju–daripada harus menginap lagi di Masohi. Artinya, ongkos lagi yang harus aku keluarkan dan harus menunggu kendaraan sampai keesokan hari, itupun kalau ada!.

Jam sembilan malam, kami sampai di pertigaan Sawai. Saya turun sendirian, jalan kaki dengan kondisi langit mendung mau turun hujan. Sebelum turun di pertigaan, aku sempat mengantarkan sopir Pak Haji meletakkan sesajen (telur, beras,kembang dan minyak wangi). Aku baru tahu, dua hari yang lalu, ada kecelakaan beruntun 3 mobil penjemput jemaah haji. satu anak usia empat tahun meninggal di tempat kejadian. Mobil yang saya tumpangi adalah kendaraan yang selamat dari musibah, karena mungkin mobil yang dikendarai adalah mobil yang ditumpangi jemaah. Aku pikir, klenik begini ternyata tidak hanya adat istiadat suku jawa saja. Anehnya, ketika aku mengantarkan untuk meletakkan sesajen di tempat kejadian bersama sopir, kami melihat ayam putih berdiri memandang kami dengan tajam.Pas di lokasi kejadian—ah tenang saja, mungkin itu adalah “sang penunggu”.

Aku jalan kaki di kegelapan, tidak membawa senter atau lampu sama sekali. Berkali-kali aku jatuh menabrak batang pohon atau batu-batuan ditengah jalan. Sekitar satu kilometer berjalan, aku putuskan untuk berhenti mencari bantuan pinjaman senter. Aku melihat kebawah ada rumah satu-satunya yang kelihatan lampunya menyala.” Pak–pak! saya minta tolong pinjami lampu!”, teriak saya dari atas. Tidak ada jawaban dari empunya rumah, daerah tersebut memang masih sangat rawan–paska konflik agama di Maluku beberapa waktu yang lalu–situasi hubungan Islam-Kristen sangat belum kondunsif. Padahal, saya tahu daerah tersebut adalah daerah basis kampung Ubed(sebuah sebutan untuk wilayah/desa yang mayoritas penduduknya adalah memeluk agama kristen). Saya nekat saja meminta tolong, karena memang tidak ada pilihan. Aku panggil lagi, akhirnya ada jawaban. “Silahkan turun ke bawah, masuk rumah!”, jawab tuan rumah yang terlihat sangat jelas membawa parang. Dua anjing besar menyambut saya dari bawah, menggonggong dengan sangat keras sekali. Aku berpikiran pasrah aja, tuan rumah membawa parang dan mengeluarkan dua ekor anjingnya. Ah, saya pikir suasana Natal pasti tidak terjadi apa-apa. Saya yakin itu, karena di depan rumah tersebut ada pohon natal yang terbuat dari bambu.Bersahaja dan khidmah sekali.

Begitu saya masuk rumah dengan sikap waspada, aku kaget sekali. Sekitar 15 orang laki-laki dan dua orang wanita ada di dalam rumah. Dan dua ekor anjing yang terus menyalak tadi ikut masuk ke dalam rumah. Aku melempar senyum kepada mereka dengan salam hangat aku sampaikan, tak lupa mengucapkan selamat merayakan natal. Saya dipersilahkan duduk di atas amben (karena di dalamnya tidak ada kursi). Aku lihat sorot matanya sudah tidak curiga lagi, saya lihat para lelaki itu sudah meletakkan parangnya kembali.Aku lega…

Ternyata apa yang aku duga sebelumnya tidak terbukti, orangnya ramah-ramah, aku dibikinkan minuman kopi panas, yang aku lihat dapurnya kelihatan sekali dijilati anjing yang menyambut aku tadi. Ah, dalil, terpaksa aku keluarkan, karena takut menyinggung tuan rumah,terpaksa aku minum sekaligus makan kue singkong yang masih panas-panas hangat,nikmat!. Selain selamat natal, aku ceritakan tentang hubunganku dengan para pendeta dan uskup sangat baik di Jawa. Ada Romo Lugano(alm), Pendeta Simon dan Rm Benny.Ketika saya cerita tentang gereja, mereka diam saja, tidak ada yang menyahut. Ketika aku cerita Romo di Jawa, mereka diam membisu. Aneh,aneh sekali! (dalam isi kepalaku, aku membayangkan kengerian luar biasa seperti alur cerita  sebuah film hollywood tentang kanibalisme di tengah hutan Arizona–sebuah film yang aku tonton di theater  kapal Lambeyu, Surabaya-Ambon)

Salah satu di antara mereka bicara:

“Kami semua disini adalah Muslim!” Jelas Udin menjelaskan tiba-tiba, karena mungkin mereka tahu, bahwa aku kebingungan melihat mereka,Udin yang aku lihat adalah sesepuh yang ada di rumah tersebut, karena kelihatan diantara mereka adalah yang paling senior. Mereka akhirnya menjelaskan, bahwa mereka adalah para pekerja borongan yang berasal dari Tehoru sedang membangun jalan makadam menuju sawai. Dua anjing tadi adalah milik yang punya rumah di desa Masihulan, 2km dari tempat tersebut. Sehingga sebagai rasa terimakasih dapat penginapan rumah, mereka biarkan anjing ikut mereka.

Aku terbengong-bengong dan takjub, subhanallah—kami berangkulan. Bahwa aku telah suudzan dan salah sangka—akhirnya kami putuskan untuk menginap di rumah tersebut dengan tempat tidur beralaskan daun mendong. Tapi, seperti biasa kami tidak tidur, tapi saling berbagi cerita sampai pagi. Jam sembilan pagi aku lanjutkan jalan kaki menuju Sawai, tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak-banyak kepada mereka.

Pelajaran yang aku peroleh:

Pertama: Jangan su’udzan kepada siapapun. Kedua: Yakin sesuatu yang buntu pasti ada jalan keluarnya, keberanian dan keyakinan kuat adalah salah satu kunci. Ketiga:persahabatan dan persaudaraan adalah salah satu modal menuju nikmatnya hidup.

Dua Generasi, Setelah Dua Belas Tahun

Posted in inspirasi by Abdul Aziz on December 16, 2007

         Kemarin, saya kedatangan tamu istimewa mereka adalah “dua aktivis”, Pengurus Cabang PMII Tulungagung. Sudah lama saya tidak bertemu mereka, terakhir bertemu sebelum tadi malam, kira-kira sudah 9 bulan, atau sepuluh bulan saya tidak bertemu dengan mereka. Karena, saya lagi menikmati “kejatuhan bisnis”. Apa yang saya rintis dengan dera cucurankeringat dan air mata, semuanya tenggelam dihantam ombak,habis. Karena kesalahan saya sendiri. (tentang ini nanti saya tulis dalam tulisan lain).

Namanya Abid dan Machrus, generasi “aktivis” dua belas tahun(11 kali regenerasi kepengurusan PMII) setelah saya. tepatnya Dua belas tahun yang lalu, saya memang sempat kuliah di dua kampus: Universitas PMII dan IAIN Sunan Ampel di Plosokandang. Kedua-duanya banyak memberikan pelajaran yang berbeda. Di kampus sampai sekarang saya juga belum menyelesaikan “eksekusi formalitas sarjana” tanpa S Ag di belakang nama saya. Karena banyak teman saya sekolah melanjutkan S2 ataupun S3, mereka dengan “diam-diam” menyembunyikan identitas dengan gelar master dan doctor serta menghilangkan S Ag nya. Demi sebuah gengsi?entahlah, semakin tinggi ilmunya, semakin lupa asalnya.Jadi saya sami’na sama mereka(alasan gombal he hehe).

Saya juga membayangkan, apa jadinya atau apa mampu saya dilabeli “agama” dibelakang identitas saya?.Sementara kehidupan dan tindakan sehari-hari saya masih sangat “munafik”. Janji tidak pernah tepat, suka bohong dan masih banyak perilaku yang jauh diajarkan oleh agama.

Kembali kepada tamu istimewa saya. Kami berdiskusi di rumah capung, di ruang tamu bertiga, sampai jam tiga pagi, diskusi panjang sekaligus reuni saling cerita masa lalu dan masa sekarang. Banyak perubahan di PMII, generasinya sudah “dijital” banget. Abid cerita, beberapa waktu yang lalu,dia mengundang salah seorang anggota ke KPK untuk diskusi di Tulungagung. Tidak itu saja, ia juga memberikan data tentang devisit anggaran 40 milyar dari APBD Tulungagung. Menohok “penguasa” tepat di jantung, bukan lagi sekedar “cabut gigi” atau “Uban”. Aktivitas diskusi itu membuat geger seluruh “petinggi” di Tulungagung.

Seusai acara, para aktivis dipanggil “para senior” yang terkena “merasa” terkena pukulan dan tendangan smackdown. Ada yang mengumpat-umpat, misuhi sampai ada yang ngrasani: enaknya computer di prapatanBTA (sebutan: markas PMII di kepatihan, karena terletak di perempatan BTA). Di tarik saja, itu kan juga dari hasil “menyisihkan APBD” juga! Ha ha ha….

Abid, juga cerita  –succes story—tentang pelaksanaan Konperensi Koordinator Cabang PMII Jawa Timur yang diselenggarakan di Tulungagung. Bagaimana dalam hanya dua minggu persiapan, sukses “meng-entertainment” lebih dari seribu aktivis PMII seluruh Jatim di Tulungagung selama 4 hari berturut-turut. Tidak ada ceritanya, para peserta kelaparan. Sayang saya lupa, tentang diskursus yang diperbincangkan dalam agenda konkorcab tersebut.

Sebelum acara dibuka di Pesantren MIA—Kiai Damsir, satu hal yang senang—para aktivis terus berusaha “silaturahmi” dengan pesantren. Para Alumni Foksika—berkumpul di “prapatan BTA”, Ada Sahabat Fathoni, Sahabat Bakir, Sahabat Koirudin, Sahabat Dawam, Sahabat Kirom, Sahabat Syafii, Sahabat Fattah, Sahabat Nawawi dan ratusan sahabat lain yang mengadakan pertemuan dari berbagai generasi. (sayang saya tidak ikut pertemuan itu, karena dalam setahun ini, saya benar-benar menjadi “manusia asing”, boleh dikatan “stress”, sakit jiwa atau apalah namanya. Saya selalu membuat sakit orang!). Jadi saya tidak berani mendekat, apalagi menyapa, tapi insyaallah saya senantiasa terhubung secara spirit dan batin saya. Namun saya yakin, tidak lama lagi “drop out” saya segera bangkit secara perlahan dan pasti. Saya berjanji!

Saya sangat bangga dengan kekompakan alumni Foksika (meski saya belum pernah sekalipun ikut pertemuan, saya memang selalu begitu—egois). Itu yang membuat iri dan cemburu para aktivis di luar TA. Alhamdulillah, sekarang banyak sekali Alumni PMII banyak yang jadi orang. Meski saya kecewa, mereka tidak ada yang berani maju menjadi AG 1. Mungkin lima tahun ke depan—-Sahabat Koirudin atau Sahabat Patah yang maju, dan harus itu!wajib hukumnya. Kalau Sahabat Fatoni (kalau boleh saya usul) tetap saja ngurusi dunia pendidikan bersama “gangnya” (sahabat Ahyak, Sahabat Syamsi, Sahabat Muhtarom,Sahabat Karji, Sahabat Mbah Nyong dan seterusnya). Kalau perlu selain di STIT Diponegoro yang sekarang sangat maju, perlu menggagas Akademi Kesehatan di Tulungagung.

Saya senang mendengar cerita tentang terpilihnya Sahabat Machrus menjadi Sekretaris Korcab PMII Jawa Timur…selamat ya! Saya juga senang sekali, kabar Sahabat Mujib di Jakarta menjadi Ketua Panitia Konggres PMII bulan Februari mendatang di Batam, Insyaallah saya akan datang dan rencananya langsung ke Singapura,Malaysia dan dilanjutkan ke Thailand dengan Sahabat Arham (kans Sahabat Mujib maju menjadi calon PB PMII sangat besar, saya dorong dia terus), Saya sangat-sangat senang,senang sekali, kabar Sahabat Qultum (si Ceria Cerdas) minggu depan nikah dapat anak waru(senangnya koq yo laku he hehe). Sahabat Qultum menurut saya adalah , alumni PMII yang sempurna, yang saya ketahui—baik dari sisi organisasi, intelektual dan kemampuan orasinya, its funny and cool! (kayak kulkas aja ya). Mudah-mudahan ramalan nasibnya menjadi salah seorang calon pemimpin masa depan.

Saya bangga dengan Sahabat Patah dengan The Djayengkoesoemo Centre–nya, selamat ultah ya!Semoga Djayeng terus berhidmah untuk kemaslahatan masyarakat( namun saya akhir-akhir ini selalu membuat kecewa dia, saya selalu bohong, tidak pernah tepat janji karena keadaan saya memang sangat tidak mendukung, maafkan aku ya tah) dia selalu konsisten “untuk pengembangan masyarakat. Namun, sebenarnya kalau dia terjun di politik, kansnya sangat terbuka. Saya sering wanti-wanti sama dia, jangan sampai terpeleset pada hal-hal yang bersifat teknis permainan. Tetaplah berjuang—yang kotor-kotor biar urusan Kadri (eh sekarang jadi saudaraku lho he he he)

Saat ini saya tunggu kabar dari seniman “fajar Ghosong” sahabat saya, seangkatan dengan istri saya Ratna, di kampus. Saya kepingin mendengar, ia tampil dalam sebuah pentas seni yang “benar” dan “menarik” kelak nanti.Ghosong, apalagi yang kau cari?

Tentang, sahabat Koirudin yang “politik” sudah menjadi dunianya, saya mendapat cerita—akhir-akhir ini sibuk dengan hobi,naik sepeda gunung setiap minggu, renang dll. Saya paham itu untuk menjalin relasi politiknya (tp saya non commen sama beliau, soalnya Sahabat Koirudin adalah senior saya, takut kualat). Kalau ada waktu saja dia akan saya ajak diving di Kepulauan Raja Ampat Irian atau di Kepulauan Misool, “The paradise of diving”. Biar hidup lebih hidup.

Yang membuat istimewa, saya yang lagi jatuh begini, dua orang aktivis itu masih teringat dan mau berkunjung “nyambangi”saya, berdiskusi sepanjang malam, sampai siang tadi pulang naik angkot ke Krian. Terimaksih Abid dan Machrus, kedatanganmu telah membuat aku bangkit kembali dari tidur yang panjang. Sekali terimakasih, dan maaf aku nggak bisa kasih sangu untuk sekedar transport. Harap maklum ya

Saya Sendiri Bagaimana?

Saya lagi full konsentrasi merintis bisnis di Pulau Seram dan Tual Maluku. Jauh sekali dari Surabaya, apalagi dari TA atau Jakarta. Saya sedang merintis usaha ikan Garopa dan Penangkapan Udang Lobster untuk pasar ekspor ke Hongkong, mudah mudahan dalam bulan Januari ini sudah ada hasil yang menggembirakan. Saya pulih ya Allah, kapok jadi orang “bangkrut”, tapi terserah Engkau Ya Rabb, aku hanya menjalani apa yang Engkau perintahkan. Tetap Semangat!Tetap Kreatif!

Tagged with: , ,

Gagasan tentang “PustakaPesantren”

Posted in inspirasi by Abdul Aziz on December 10, 2007

      Pengalaman saya “nyantri” di beberapa pesantren (tapi harap maklum, sampai sekarang, saya tipe santri yang tidak bisa membaca kitab kuning :saking ndableke he he).Di Pesantren yang namanya perpustakaan masih sangat jauh dari harapan. Saya melihat, masih sangat jarang pesantren yang memperhatikan arti pentingnya keberadaan perpustakaan.

Di Jawa Timur, saat ini lebih dari 10.000 pesantren yang tersebar di seluruh kabupaten.Di tiap pesantren jumlah santri sekitar 25 – 7.000 santri.Ambil saja pesantren A, dengan santri 1.000 orang, budaya baca tinggi, maka yang kita prioritaskan adalah pesantren ini.

Padahal, kalau menjadi santri, kesempatan untuk membaca adalah sangat banyak sekali. Habis sekolah, istirahat bisanya sampai jam empat sore, setelah itu ngaji kitab, ba’da maghrib, biasanya taqrordurus sampai ba’da Isya. Mungkin semacam perpustakaan 24 jam lah.

Saya kembali teringat, sewaktu nyantri di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang misalnya, Perpustakaan pesantren, hanya buka tiap hari Jumat pagi. Sehingga waktu itu, saya mesti datang pagi sampai sholat jumat tiba. Koleksi perpustakaan waktu itu mungkin hanya tidak lebih dari 2000 judul. Yang banyak saya baca waktu itu, Bundel majalah TEMPO, Buku-buku dari kedutaan dan buku-buku serial pengetahuan lainnya. Sampai, tidak ada buku atau majalah baru lagi yang bisa saya nikmati.Itu sudah di Tambakberas, yang sudah sangat maju dibanding dengan pesantren lainnya.

Sebagai contoh yang cukup baik adalah Pondok Pesantren Sidogiri,  Pasuruan, untuk saat ini, mungkin lembaga pendidikan yang paling lengkap koleksi kitabnya, kaset ceramah ilmiah, majalah dan mikrofilm koleksinya. Dan yang menarik,setiap saya datang ke Sidogiri, perpustakaan dengan koleksi buku yang cukup (karena setiap tahun selalu di update dengan anggaran yang cukup besar untuk ukuran pesantren), para santri sangat menikmati buku bacaan di perpustakaan sampai malam hari. Sehingga, boleh dibilang, pesantren Sidogiri para santrinya “cukup” punya wawasan yang luas. Pak Said Aqiel Siradj aja, kalau diskusi di Sidogiri dengan para santri, masih perlu mikir-mikir kalau tidak persiapan dengan matang.

Sebut saja,Ulil Abshar Abdalla, Pemikir Muda NU, yang saat ini lagi “nyantri” di Harvard University,Boston, tentang gagasan-gagasan pembaharuan tentang Islam luar biasa. Pengakuan waktu nyantri, ia selalu membaca Penyebar Semangat,Jaya Baya dan kalau tidak salah sering baca Prisma(bulletin LP3ES) yang pada waktu itu, sangat berpengaruh dalam memberikan khasanah pemikiran. Bayangin, di pesantren cebolek, masuk beberapa majalah yang akhirnya menumbuhkan semangat membaca dan melahirkan generasi pemikir masa depan.

Mungkin dalam usia saya sekarang yang 34 tahunan(yang saya sadar maqom saya adalah cantrik, bukan pemikir,birokrat apalagi politikus),hingga saya sangat serius akan mewujudkan ”amalan baik” ,Karena saya, saya malu, amalan baik saya jauh tertinggal dibanding kawan-kawan yang lain,  saat ini, saya sedang menggagas mendirikan semacam lembaga yang akan saya beri nama: Yayasan Pustaka Pesantren, dalam angan-angan saya gambaranya seperti ini:

Lembaga ini nantinya akan bergerak dalam 3 (tiga) kegiatan:

a. Pengadaan Gedung Perpustakaan dan memberikan bantuan  buku,literatur, kitab,film dokumenter dan CD ROM tentang sains serta kitab klasik

b. Penerbitan kitab,buku dan newsletter. Para kiai atau santri yang mempunyai artikel atau naskah yang baik, akan diterbitkan.

c. Pelatihan, sebanyak mungkin melakukan pelatihan-pelatihan jurnalistik, tulis-menulis,baca membaca dan lain sebagainya, dari pesantren ke pesantren. Yang penting, budaya membaca terus tumbuh di kalangan pesantren. Meski sudah ketinggalan berabad-abad dibanding dengan “bangsa” yang lain.

Darimana dananya? ah, saya yakin yang mau baca tulisan ini saja, pasti mau bantu untuk mewujudkannya. Saya yakin itu. Misalnya, eh, PustakaPesantren mau bantu dirikan Perpustakaan AlGhazaly di Pondok Pesantren B, kita butuh semen 200 sak, Kayu 10M2,Batu Bata 10.000 biji, maket gambarnya seperti ini dan buku yang dibutuhkan sebagai stimulasi 1.000 judul, ayo siapa bantu? Pahalanya gede lho!Dibikin lelang terbuka di website, siapa yang mau jadi donatur material bangunan, Donator buku, Donatur Nara Sumber dan apapun yang dibutuhkan untuk keperluan ini, pasti terwujud.

     Saya rasa, saat ini kita memiliki    ‘alumni ‘ pesantren yang sudah mapan dan mempunyai “power”:Pak Dahlan Iskan, Arif Affandi,Pak Moh Nuh, Mas Ulil, Pak Burhanudin Abdullah, Abdul Hamid Wahid,Muamar Emka dan tokoh-tokoh lain, kalau kita bersama-sama meng”intrik” mereka, maka ribuan atau bahkan, jutaan literatur dan buku akan mengalir ke pesantren.

    Walhasil, pada 15-20 tahun ke depan, hasilnya pasti sudah kelihatan. Kalau tidak segera kita mulai, kapan dimulainya? Saya tunggu dukungan dan komitmen kawan-kawan yang lain.

Insyaallah……

 

(more…)