AbdulAziz

“Tanamlah Pohon Meski Esok Kiamat”

Posted in 29503 by Abdul Aziz on August 19, 2009

Awal tahun 1999, ketika saya menjadi staff LPSP-RMI merangkap menjadi desk Lingkungan di Majalah SANTRI sekaligus sebagai koordinator program kerjasama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat- Rabithah Ma’ahid Islamiah(Asosiasi Pesantren Seluruh Indonesia)  bekerjasama dengan Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI.

Program tersebut dimotori oleh DR  HM Ali Haidar sebagai Sekjend PP RMI yang kala itu harus bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk koordinasi dengan Bappenas dan semua lini birokrasi agar pesantren dapat dimasukkan dalam “agenda pembangunan” nasional. Mengingat sejarah dan bukti nyata kontribusi pesantren  yang sangat besar bagi bangsa. Namun, sungguh ironis nasib 13.000 lembaga pesantren  yang senantiasa terpinggirkan oleh pemerintah saat itu (atau sampai sekarang).

Isu lingkungan waktu itu masih belum menjadi sebuah domain di pesantren. Bahkan sebagian pesantren yang menerima program kehutanan malah curiga: Jangan-jangan ini trik Perhutani untuk cuci-tangan terhadap persoalan “gundulnya” hutan akibat salah urus manajemen mereka sendiri. Bahkan, tahun 1999 adalh puncaknya “gundulisasi” hutan diseluruh pulau Jawa. Setelah hutan habis oleh “orang abangan” ganti sekarang “orang hijau masuk”. Pendapat tersebut ada benarnya, ada salahnya—kalau saya berpendapat—salahnya pesantren dari dulu tidak pernah bisa mengejewantahkan “Ihyaul Mawat”. 

Pengetahuan saya sendiri terhadap masalah kehutanan sangat minim, Untung ada Pak Taufiq Setyadi seorang “kiai” yang menjadi “think-thank”nya perhutani dan Pak Roni S Syaroni dari SPEKTRA yang menjadi “ustadz kabir” saya dalam bidang kehutanan. Kami sering diskusi dengan beliau termasuk Pak Ali  di karangrejo XV(Kantor Pusat PP RMI)  sampai suntuk malam.

Di lapangan, saya banyak mendapatkan kendala, meski kesempatan yang diberikan pada dunia pesantren sungguh luar biasa. Pengetahuan dan konsentrasi pesantren terhadap dunia “hutan” sungguh sangat memprihatinkan. Desain “cash program” untuk stimulan saya rasa sudah cukup. Apapun motif karitatifnya untuk politik habibie atau apapun saya jauhkan dalam program ini. Yang penting pesantren “peduli hutan”.

Singkat cerita, saya matur Pak Ali Haidar dan KH Aziz Masyhuri untuk mendirikan pesantren rintisan di bidang khususon agroforestry. Di Blitar, saya mohon izin dan restu kepada KH Imam Sughrowardi untuk menyampaikan niat yang sama. Beliau langsung setuju dengan gagasan tersebut, Saya dan Pak Dimyathie disuruh memilih 2 pesantren yang bisa digunakan sebagi model: Jombor dan Sumberingin. Jombor dekat dengan hutan dan kali brantas sedangkan Sumberingin dekat dengan Hutan Maliran yang kurang lebih 750 Ha.

Saya bersama Kiai Dimyathi Koordinator program Kehutanan RMI Kabupaten Blitar, sepakat memilih Sumberingin Sanankulon Blitar. Pertimbangan saya: Masyarakatnya egaliter, dekat dengan hutan, dekat mata air—kalisirah, SDM mendukung dan Kiai Rofi’I (almarhum). Akhirnya, Saya, Kiai Rofii dan Kiai Dimyathie Bismillah mendirikan pesantren rintisan: Pondok Pesantren Wanatani—dibawah naungan Yayasan Shodiq Damanhuri.

Kalau pesantren salaf atau modern yang diurus para santri yang mondok. Tapi kalau Pesantren Wanatani yang diurus adalah para santri senior, Ustadz bahkan sampai Kiai Pesantren yang “nyantri” di Wanatani. Lho? Iya, Di Pesantren Wanatani programnya adalah semacam “Kursus pendek”, misalnya program pelatihan: Beternak Ayam Buras, Belajar bersama maestronya ayam: Pak Siswoyo sebagai guru, Atau belajar jurnalistik lingkungan, pesertanya para siswa-siswi SMA se Kabupaten Blitar, Ada juga pelatihan pembibitan kepada para santri se-Jawa Timur. Bahkan agenda-agenda kegiatan senantiasa penuh. Selain program pelatihan, pengajian salaf Kiai Rofii dan rintisan TK Alam Wanatani juga berjalan dengan baik. Bagaimanapun, dalam dunia pesantren dikenal istilah: walaupun ilmu satu ayat adalah guru…..

+++++++++++++++++++++

Tapi, mendirikan pesantren memang tidak semudah mendirikan perusahaan. Komponen pesantren itu: Kiai, asrama, masjid, santri dan masyarakat. Lima komponen tersebut  harus berjalan dengan irama yang pas. Apalagi punya niatan diluar itu, masyaallah, saya jamin 1000 persen tidak bisa jalan.

Pesantren Wanatani sempat “beku” beberapa saat, penyebabnya adalah: Ikhlasnya kurang dan tidak istiqomah!( untuk diri saya sendiri lho), Ditengah situasii tersebut, Kiai Rofi’I sudah “masuk sorga”,(Insyaallah) duluan. Malam sebelum meninggal, Kiai Rofii dengan nada penuh ikhlas telepon saya, saya masih ingat wasiat beliu: “Ziz, alhamdulillah pondok sing awake dewe rintis wis mulai jalan. Bocah-bocah wis podo iso mlaku dewe-dewe, kegiatan ya wis apik. Aku sumringah seneng ngene iki. Meski awakmu lagi susah, aku mung iso dunga…..”. Tak terasa, saya menitikkan air mata ketika mendapat telepon dari Kiai Rofii—Sahabat, guru sekaligus tempat curhat saya—-Esok paginya saya mendapat kabar—beliau meninggal dunia.

Dosa saya, lama sekali saya tidak “sambang” ke pesantren wanatani. Karena kondisi saya yang belum memungkinkan—badai krisis lima tahun ini tidak pernah berhenti. Lakon yang saya jalani mungkin lebih tepat—“petruk” dadi “butho”, kenapa? Apapun yang saya lakukan jadi jelek—ditambah utang sana-sini jumlahnya banyak sekali(gharim plus lah). Tapi Insyaallah, saya optimis, segera jadi petruk lagi. Beban Pesantren Wanatani tersebut selalu mengganggu akal sehat saya…terus bagaimana ya bisa jalan kembali. Sebuah gagasan besar, fasilitas sudah ada, masyarakat oke, tapi terhenti di jalan….Terhenti jalan pikiran saya—sampai tidak bisa mikir….Hanya do’a kali…

Tanggal 17 Agustus kemarin, di Facebook saya—ada sebuah pesan—yang membuat saya sangat senang—–inilah proklamasi sesungguhnya…..inti dari pesan tersebut: “Pesantren Wanatani saya lanjutkan!”.

Pesan tersebut dari salah satu kader Pesantren Wanatani yang dulu terlibat mulai a sampai z. Sungguh tiada kebahagiaan senikmat ini….Setelah 13 Tahun:Pohon itu mulai tumbuh—tumbuhlah terus….( Masyarakat menunggu buahnya. Insyaallah)

 

Bendosewu, 18 Agustus 2009

 

Makan “Suami”,siapa mau?

Posted in 29503 by Abdul Aziz on August 2, 2009

Indonesia memang kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Dari gunung, batubara, emas,tembaga, nikel sampai kenthut Lapindopun juga punya.
Saya kali ini cuma cerita saja tentang enaknya makan dimana-mana. Misal, kalau kita lagi di Jakarta, ada soto jakarta, di Banyumas ada Sroto, di Lamongan ada soto babad, kalau lagi di sulawesi jadilah Coto Makassar dengan sop konro yang enak itu. Dulu di kota Blitar ada “soto chepitan” di samping masjid Agung dan depan alun-alun kota–enaknya setengah mati. Kuahnya luar biasa enak…tapi sekarang tutup. Kalau pas di Surabaya, banyak juga soto legendaris: soto pak sadi, soto gebeng pojok atau kalau malam-malam mampir di soto belakang taman bungkul, weleh tambah enaak puol….
Ini belum Sate, tapi sate yang enak paling enak sedunia adalah sate Tulungagung depan kantor bupati Tulungagung…. wah aromanya luar biasa..
Atau, nasi ayam lodho mbah Yusuf di Trenggalek, Ibu Mamik Plosokandang juga lumayan ah pkoknya nbanyak benget.
Tapi, saya mau cerita: Mau makan suami?. Sabar, suami yang saya ceritakan adalah nama makanan khas buton. Waktu saya ditawari makan suami? saya kaget…wong saya sendiri adalah suami (suami yang baik lagi hehehe).
Suami bahanya dari tepung ketela pohon yang diparut dulu diambil sari patinya. Kemudian diperas sampai kering untuk dijemur. dimask kayak pakai cetakan tumpeng tapi ukurannya kecil. Makanya sama ikan asar (bakar asap) dengan sambal colo-colo khas maluku. Wah sedaap, Mau makan istri eh suami?