Ulil & Khutbah di Kapal
Seminggu yang lalu, saya naik kapal PELNI Lambayu dengan
rute Surabaya-Makassar- BauBau -Ambon. Perjalanan
kapal membutuhkan waktu 3 (tiga) hari sampai tujuan.
Di Masjid kapal, selalu diadakan pengajian/qultum
sesudah sholat jamaah.
Berkali-kali saya dengar khutbah seperti ini:,”Kalau
Sdr Ulil Abshar Abdalla hidup pada zaman Sahabat Umar,
maka pedang telah menggorok lehernya”.
Speaker pengajian di dengarkan oleh semua penumpang
kapal, karena speaker kapal on dan live untuk seluruh
penumpang.
Telinga dan jiwa saya berontak, spontan khotib saya
“labrak”, saya berkata dengan sangat sopan kepada dia ,” pernah
ketemu,membaca, mendengar atau berdiskusi langsung dengan Ulil Abshar Abdalla tentang Islam?”. Sang Khotib dengan sopan pula menjawab
dengan polosnya,”belum! “.
Kalau begitu,”Jika Anda hidup di zaman Sahabat Umar, memfitnah orang tanpa dasar,
Maka tidak sekedar pancung yang menghukum Anda!”.
Su’udzon dan Toleransi
Jum’at pagi, aku pergi dari Wahai menuju Masohi (ibu kota Kabupaten Maluku Tengah), jaraknya sekitar 180 Km dengan membayar ongkos angkut Panther Rp. 125.000. Perjalanan melalui Pegunungan SS. naik turun dengan tanjakan dan kelokan tinggi yang cukup melelahkan, sekitar 50Km jaraknya, dengan waktu tempuh satu jam lebih. Jalan pintas ini masih baru sekitar tiga tahun ini dibuka, sebelumnya untuk pergi dari wahai ke Masohi harus melaui jalur laut–naik speedboat ke Saka, baru naik mobil minibus Mulya Express (bersama kambing dan semua hasil bumi–berjubelan—sebuah pemandanagn khas Indonesia Timur).
Jam satu siang, aku sampai di Masohi.Langsung menuju Kantor Cabang BRI Masohi–dapat nomor antrian 281, aku lihat di antrian baru mencapai angka 111 yang sedang dilayani–oleh seorang petugas teller saja. Hari itu aku harus transfer ke Surabaya untuk pembelian unit trukguna menunjang bisnis kami di Maluku. Harga angkutan di Maluku Tengah luar biasa mahal. Sehingga harus kami putuskan untuk beli angkutan truk dari Surabaya. Selisihnya lebih dari 30jt dibanding dengan harga Surabaya. Jam 5 sore, aku baru bisa dilayani oleh teller (sungguh menyebalkan, pekerjaannya lambat sekali). Namun, aku bersyukur, karena masih dapat dilayani, sehingga tidak harus menginap lagi. Toh, hari Sabtu juga libur, bank tutup.
Sepulang dari Bank BRI, aku cari angkutan menuju Sawai, tempat dimana aku mulai merintis usaha laut di Maluku. Jaraknya sekitar 150Km, tapi lebih dari 100Km adalah hutan belantara, hutan Seram. Aku cari kendaraan di sekitar terminal Masohi dan depan penginapan Raudla,tempat dimana mobil Sawai,Wahai dan Kobisonta mangkal, akhirnya aku temukan juga, mobil taruna milik pak Haji– minta ongkos carter 500ribu, oke aku sku setujui. Untungnya ada dua penumpang yang mau pergi ke Ara-Ara (daerah usaha budidaya tambak intensif modern yang dikelola PMA Jepang PT Nisshui Indonesia, dulu dikelola oleh Djayanti Group–sebuah perusahaan kroni Soeharto). Jadi, kami urunan bertiga. Tapi dengan perjanjian, aku hanya diantarkan sampai pertigaan Sawai, karena jalannya menuju Sawai dengan jarak 6,5 Km tidak dapat dilalui oleh kendaraan semacam Daihatsu Taruna. Lagi-lagi, aku setuju–daripada harus menginap lagi di Masohi. Artinya, ongkos lagi yang harus aku keluarkan dan harus menunggu kendaraan sampai keesokan hari, itupun kalau ada!.
Jam sembilan malam, kami sampai di pertigaan Sawai. Saya turun sendirian, jalan kaki dengan kondisi langit mendung mau turun hujan. Sebelum turun di pertigaan, aku sempat mengantarkan sopir Pak Haji meletakkan sesajen (telur, beras,kembang dan minyak wangi). Aku baru tahu, dua hari yang lalu, ada kecelakaan beruntun 3 mobil penjemput jemaah haji. satu anak usia empat tahun meninggal di tempat kejadian. Mobil yang saya tumpangi adalah kendaraan yang selamat dari musibah, karena mungkin mobil yang dikendarai adalah mobil yang ditumpangi jemaah. Aku pikir, klenik begini ternyata tidak hanya adat istiadat suku jawa saja. Anehnya, ketika aku mengantarkan untuk meletakkan sesajen di tempat kejadian bersama sopir, kami melihat ayam putih berdiri memandang kami dengan tajam.Pas di lokasi kejadian—ah tenang saja, mungkin itu adalah “sang penunggu”.
Aku jalan kaki di kegelapan, tidak membawa senter atau lampu sama sekali. Berkali-kali aku jatuh menabrak batang pohon atau batu-batuan ditengah jalan. Sekitar satu kilometer berjalan, aku putuskan untuk berhenti mencari bantuan pinjaman senter. Aku melihat kebawah ada rumah satu-satunya yang kelihatan lampunya menyala.” Pak–pak! saya minta tolong pinjami lampu!”, teriak saya dari atas. Tidak ada jawaban dari empunya rumah, daerah tersebut memang masih sangat rawan–paska konflik agama di Maluku beberapa waktu yang lalu–situasi hubungan Islam-Kristen sangat belum kondunsif. Padahal, saya tahu daerah tersebut adalah daerah basis kampung Ubed(sebuah sebutan untuk wilayah/desa yang mayoritas penduduknya adalah memeluk agama kristen). Saya nekat saja meminta tolong, karena memang tidak ada pilihan. Aku panggil lagi, akhirnya ada jawaban. “Silahkan turun ke bawah, masuk rumah!”, jawab tuan rumah yang terlihat sangat jelas membawa parang. Dua anjing besar menyambut saya dari bawah, menggonggong dengan sangat keras sekali. Aku berpikiran pasrah aja, tuan rumah membawa parang dan mengeluarkan dua ekor anjingnya. Ah, saya pikir suasana Natal pasti tidak terjadi apa-apa. Saya yakin itu, karena di depan rumah tersebut ada pohon natal yang terbuat dari bambu.Bersahaja dan khidmah sekali.
Begitu saya masuk rumah dengan sikap waspada, aku kaget sekali. Sekitar 15 orang laki-laki dan dua orang wanita ada di dalam rumah. Dan dua ekor anjing yang terus menyalak tadi ikut masuk ke dalam rumah. Aku melempar senyum kepada mereka dengan salam hangat aku sampaikan, tak lupa mengucapkan selamat merayakan natal. Saya dipersilahkan duduk di atas amben (karena di dalamnya tidak ada kursi). Aku lihat sorot matanya sudah tidak curiga lagi, saya lihat para lelaki itu sudah meletakkan parangnya kembali.Aku lega…
Ternyata apa yang aku duga sebelumnya tidak terbukti, orangnya ramah-ramah, aku dibikinkan minuman kopi panas, yang aku lihat dapurnya kelihatan sekali dijilati anjing yang menyambut aku tadi. Ah, dalil, terpaksa aku keluarkan, karena takut menyinggung tuan rumah,terpaksa aku minum sekaligus makan kue singkong yang masih panas-panas hangat,nikmat!. Selain selamat natal, aku ceritakan tentang hubunganku dengan para pendeta dan uskup sangat baik di Jawa. Ada Romo Lugano(alm), Pendeta Simon dan Rm Benny.Ketika saya cerita tentang gereja, mereka diam saja, tidak ada yang menyahut. Ketika aku cerita Romo di Jawa, mereka diam membisu. Aneh,aneh sekali! (dalam isi kepalaku, aku membayangkan kengerian luar biasa seperti alur cerita sebuah film hollywood tentang kanibalisme di tengah hutan Arizona–sebuah film yang aku tonton di theater kapal Lambeyu, Surabaya-Ambon)
Salah satu di antara mereka bicara:
“Kami semua disini adalah Muslim!” Jelas Udin menjelaskan tiba-tiba, karena mungkin mereka tahu, bahwa aku kebingungan melihat mereka,Udin yang aku lihat adalah sesepuh yang ada di rumah tersebut, karena kelihatan diantara mereka adalah yang paling senior. Mereka akhirnya menjelaskan, bahwa mereka adalah para pekerja borongan yang berasal dari Tehoru sedang membangun jalan makadam menuju sawai. Dua anjing tadi adalah milik yang punya rumah di desa Masihulan, 2km dari tempat tersebut. Sehingga sebagai rasa terimakasih dapat penginapan rumah, mereka biarkan anjing ikut mereka.
Aku terbengong-bengong dan takjub, subhanallah—kami berangkulan. Bahwa aku telah suudzan dan salah sangka—akhirnya kami putuskan untuk menginap di rumah tersebut dengan tempat tidur beralaskan daun mendong. Tapi, seperti biasa kami tidak tidur, tapi saling berbagi cerita sampai pagi. Jam sembilan pagi aku lanjutkan jalan kaki menuju Sawai, tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak-banyak kepada mereka.
Pelajaran yang aku peroleh:
Pertama: Jangan su’udzan kepada siapapun. Kedua: Yakin sesuatu yang buntu pasti ada jalan keluarnya, keberanian dan keyakinan kuat adalah salah satu kunci. Ketiga:persahabatan dan persaudaraan adalah salah satu modal menuju nikmatnya hidup.