Dua Generasi, Setelah Dua Belas Tahun
Kemarin, saya kedatangan tamu istimewa mereka adalah “dua aktivis”, Pengurus Cabang PMII Tulungagung. Sudah lama saya tidak bertemu mereka, terakhir bertemu sebelum tadi malam, kira-kira sudah 9 bulan, atau sepuluh bulan saya tidak bertemu dengan mereka. Karena, saya lagi menikmati “kejatuhan bisnis”. Apa yang saya rintis dengan dera cucurankeringat dan air mata, semuanya tenggelam dihantam ombak,habis. Karena kesalahan saya sendiri. (tentang ini nanti saya tulis dalam tulisan lain).
Namanya Abid dan Machrus, generasi “aktivis” dua belas tahun(11 kali regenerasi kepengurusan PMII) setelah saya. tepatnya Dua belas tahun yang lalu, saya memang sempat kuliah di dua kampus: Universitas PMII dan IAIN Sunan Ampel di Plosokandang. Kedua-duanya banyak memberikan pelajaran yang berbeda. Di kampus sampai sekarang saya juga belum menyelesaikan “eksekusi formalitas sarjana” tanpa S Ag di belakang nama saya. Karena banyak teman saya sekolah melanjutkan S2 ataupun S3, mereka dengan “diam-diam” menyembunyikan identitas dengan gelar master dan doctor serta menghilangkan S Ag nya. Demi sebuah gengsi?entahlah, semakin tinggi ilmunya, semakin lupa asalnya.Jadi saya sami’na sama mereka(alasan gombal he hehe).
Saya juga membayangkan, apa jadinya atau apa mampu saya dilabeli “agama” dibelakang identitas saya?.Sementara kehidupan dan tindakan sehari-hari saya masih sangat “munafik”. Janji tidak pernah tepat, suka bohong dan masih banyak perilaku yang jauh diajarkan oleh agama.
Kembali kepada tamu istimewa saya. Kami berdiskusi di rumah capung, di ruang tamu bertiga, sampai jam tiga pagi, diskusi panjang sekaligus reuni saling cerita masa lalu dan masa sekarang. Banyak perubahan di PMII, generasinya sudah “dijital” banget. Abid cerita, beberapa waktu yang lalu,dia mengundang salah seorang anggota ke KPK untuk diskusi di Tulungagung. Tidak itu saja, ia juga memberikan data tentang devisit anggaran 40 milyar dari APBD Tulungagung. Menohok “penguasa” tepat di jantung, bukan lagi sekedar “cabut gigi” atau “Uban”. Aktivitas diskusi itu membuat geger seluruh “petinggi” di Tulungagung.
Seusai acara, para aktivis dipanggil “para senior” yang terkena “merasa” terkena pukulan dan tendangan smackdown. Ada yang mengumpat-umpat, misuhi sampai ada yang ngrasani: enaknya computer di prapatanBTA (sebutan: markas PMII di kepatihan, karena terletak di perempatan BTA). Di tarik saja, itu kan juga dari hasil “menyisihkan APBD” juga! Ha ha ha….
Abid, juga cerita –succes story—tentang pelaksanaan Konperensi Koordinator Cabang PMII Jawa Timur yang diselenggarakan di Tulungagung. Bagaimana dalam hanya dua minggu persiapan, sukses “meng-entertainment” lebih dari seribu aktivis PMII seluruh Jatim di Tulungagung selama 4 hari berturut-turut. Tidak ada ceritanya, para peserta kelaparan. Sayang saya lupa, tentang diskursus yang diperbincangkan dalam agenda konkorcab tersebut.
Sebelum acara dibuka di Pesantren MIA—Kiai Damsir, satu hal yang senang—para aktivis terus berusaha “silaturahmi” dengan pesantren. Para Alumni Foksika—berkumpul di “prapatan BTA”, Ada Sahabat Fathoni, Sahabat Bakir, Sahabat Koirudin, Sahabat Dawam, Sahabat Kirom, Sahabat Syafii, Sahabat Fattah, Sahabat Nawawi dan ratusan sahabat lain yang mengadakan pertemuan dari berbagai generasi. (sayang saya tidak ikut pertemuan itu, karena dalam setahun ini, saya benar-benar menjadi “manusia asing”, boleh dikatan “stress”, sakit jiwa atau apalah namanya. Saya selalu membuat sakit orang!). Jadi saya tidak berani mendekat, apalagi menyapa, tapi insyaallah saya senantiasa terhubung secara spirit dan batin saya. Namun saya yakin, tidak lama lagi “drop out” saya segera bangkit secara perlahan dan pasti. Saya berjanji!
Saya sangat bangga dengan kekompakan alumni Foksika (meski saya belum pernah sekalipun ikut pertemuan, saya memang selalu begitu—egois). Itu yang membuat iri dan cemburu para aktivis di luar TA. Alhamdulillah, sekarang banyak sekali Alumni PMII banyak yang jadi orang. Meski saya kecewa, mereka tidak ada yang berani maju menjadi AG 1. Mungkin lima tahun ke depan—-Sahabat Koirudin atau Sahabat Patah yang maju, dan harus itu!wajib hukumnya. Kalau Sahabat Fatoni (kalau boleh saya usul) tetap saja ngurusi dunia pendidikan bersama “gangnya” (sahabat Ahyak, Sahabat Syamsi, Sahabat Muhtarom,Sahabat Karji, Sahabat Mbah Nyong dan seterusnya). Kalau perlu selain di STIT Diponegoro yang sekarang sangat maju, perlu menggagas Akademi Kesehatan di Tulungagung.
Saya senang mendengar cerita tentang terpilihnya Sahabat Machrus menjadi Sekretaris Korcab PMII Jawa Timur…selamat ya! Saya juga senang sekali, kabar Sahabat Mujib di Jakarta menjadi Ketua Panitia Konggres PMII bulan Februari mendatang di Batam, Insyaallah saya akan datang dan rencananya langsung ke Singapura,Malaysia dan dilanjutkan ke Thailand dengan Sahabat Arham (kans Sahabat Mujib maju menjadi calon PB PMII sangat besar, saya dorong dia terus), Saya sangat-sangat senang,senang sekali, kabar Sahabat Qultum (si Ceria Cerdas) minggu depan nikah dapat anak waru(senangnya koq yo laku he hehe). Sahabat Qultum menurut saya adalah , alumni PMII yang sempurna, yang saya ketahui—baik dari sisi organisasi, intelektual dan kemampuan orasinya, its funny and cool! (kayak kulkas aja ya). Mudah-mudahan ramalan nasibnya menjadi salah seorang calon pemimpin masa depan.
Saya bangga dengan Sahabat Patah dengan The Djayengkoesoemo Centre–nya, selamat ultah ya!Semoga Djayeng terus berhidmah untuk kemaslahatan masyarakat( namun saya akhir-akhir ini selalu membuat kecewa dia, saya selalu bohong, tidak pernah tepat janji karena keadaan saya memang sangat tidak mendukung, maafkan aku ya tah) dia selalu konsisten “untuk pengembangan masyarakat. Namun, sebenarnya kalau dia terjun di politik, kansnya sangat terbuka. Saya sering wanti-wanti sama dia, jangan sampai terpeleset pada hal-hal yang bersifat teknis permainan. Tetaplah berjuang—yang kotor-kotor biar urusan Kadri (eh sekarang jadi saudaraku lho he he he)
Saat ini saya tunggu kabar dari seniman “fajar Ghosong” sahabat saya, seangkatan dengan istri saya Ratna, di kampus. Saya kepingin mendengar, ia tampil dalam sebuah pentas seni yang “benar” dan “menarik” kelak nanti.Ghosong, apalagi yang kau cari?
Tentang, sahabat Koirudin yang “politik” sudah menjadi dunianya, saya mendapat cerita—akhir-akhir ini sibuk dengan hobi,naik sepeda gunung setiap minggu, renang dll. Saya paham itu untuk menjalin relasi politiknya (tp saya non commen sama beliau, soalnya Sahabat Koirudin adalah senior saya, takut kualat). Kalau ada waktu saja dia akan saya ajak diving di Kepulauan Raja Ampat Irian atau di Kepulauan Misool, “The paradise of diving”. Biar hidup lebih hidup.
Yang membuat istimewa, saya yang lagi jatuh begini, dua orang aktivis itu masih teringat dan mau berkunjung “nyambangi”saya, berdiskusi sepanjang malam, sampai siang tadi pulang naik angkot ke Krian. Terimaksih Abid dan Machrus, kedatanganmu telah membuat aku bangkit kembali dari tidur yang panjang. Sekali terimakasih, dan maaf aku nggak bisa kasih sangu untuk sekedar transport. Harap maklum ya
Saya Sendiri Bagaimana?
Saya lagi full konsentrasi merintis bisnis di Pulau Seram dan Tual Maluku. Jauh sekali dari Surabaya, apalagi dari TA atau Jakarta. Saya sedang merintis usaha ikan Garopa dan Penangkapan Udang Lobster untuk pasar ekspor ke Hongkong, mudah mudahan dalam bulan Januari ini sudah ada hasil yang menggembirakan. Saya pulih ya Allah, kapok jadi orang “bangkrut”, tapi terserah Engkau Ya Rabb, aku hanya menjalani apa yang Engkau perintahkan. Tetap Semangat!Tetap Kreatif!
Ruaarrrrrrrrrrrrrrr biasa. salut, good luck.txu
He he he, thanks Din, —
Ibarat sebuah peer, kalau orangnya jatuh, pasti setelah itu akan menuat tinggi ke atas. Mugo-mugo kang Ajis!
Bravo pmii
Mantab
Meskipun terlambat baca…
Mujib
tq Jib, Apa kabar? Jakarta masih “panas”?
masih kang,tambah panas maneh krono arep kongres
Ojo p[anas-panasan terus Jib…mujib!
okelah……