Gagasan tentang “PustakaPesantren”
Pengalaman saya “nyantri” di beberapa pesantren (tapi harap maklum, sampai sekarang, saya tipe santri yang tidak bisa membaca kitab kuning :saking ndableke he he).Di Pesantren yang namanya perpustakaan masih sangat jauh dari harapan. Saya melihat, masih sangat jarang pesantren yang memperhatikan arti pentingnya keberadaan perpustakaan.
Di Jawa Timur, saat ini lebih dari 10.000 pesantren yang tersebar di seluruh kabupaten.Di tiap pesantren jumlah santri sekitar 25 – 7.000 santri.Ambil saja pesantren A, dengan santri 1.000 orang, budaya baca tinggi, maka yang kita prioritaskan adalah pesantren ini.
Padahal, kalau menjadi santri, kesempatan untuk membaca adalah sangat banyak sekali. Habis sekolah, istirahat bisanya sampai jam empat sore, setelah itu ngaji kitab, ba’da maghrib, biasanya taqrordurus sampai ba’da Isya. Mungkin semacam perpustakaan 24 jam lah.
Saya kembali teringat, sewaktu nyantri di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang misalnya, Perpustakaan pesantren, hanya buka tiap hari Jumat pagi. Sehingga waktu itu, saya mesti datang pagi sampai sholat jumat tiba. Koleksi perpustakaan waktu itu mungkin hanya tidak lebih dari 2000 judul. Yang banyak saya baca waktu itu, Bundel majalah TEMPO, Buku-buku dari kedutaan dan buku-buku serial pengetahuan lainnya. Sampai, tidak ada buku atau majalah baru lagi yang bisa saya nikmati.Itu sudah di Tambakberas, yang sudah sangat maju dibanding dengan pesantren lainnya.
Sebagai contoh yang cukup baik adalah Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, untuk saat ini, mungkin lembaga pendidikan yang paling lengkap koleksi kitabnya, kaset ceramah ilmiah, majalah dan mikrofilm koleksinya. Dan yang menarik,setiap saya datang ke Sidogiri, perpustakaan dengan koleksi buku yang cukup (karena setiap tahun selalu di update dengan anggaran yang cukup besar untuk ukuran pesantren), para santri sangat menikmati buku bacaan di perpustakaan sampai malam hari. Sehingga, boleh dibilang, pesantren Sidogiri para santrinya “cukup” punya wawasan yang luas. Pak Said Aqiel Siradj aja, kalau diskusi di Sidogiri dengan para santri, masih perlu mikir-mikir kalau tidak persiapan dengan matang.
Sebut saja,Ulil Abshar Abdalla, Pemikir Muda NU, yang saat ini lagi “nyantri” di Harvard University,Boston, tentang gagasan-gagasan pembaharuan tentang Islam luar biasa. Pengakuan waktu nyantri, ia selalu membaca Penyebar Semangat,Jaya Baya dan kalau tidak salah sering baca Prisma(bulletin LP3ES) yang pada waktu itu, sangat berpengaruh dalam memberikan khasanah pemikiran. Bayangin, di pesantren cebolek, masuk beberapa majalah yang akhirnya menumbuhkan semangat membaca dan melahirkan generasi pemikir masa depan.
Mungkin dalam usia saya sekarang yang 34 tahunan(yang saya sadar maqom saya adalah cantrik, bukan pemikir,birokrat apalagi politikus),hingga saya sangat serius akan mewujudkan ”amalan baik” ,Karena saya, saya malu, amalan baik saya jauh tertinggal dibanding kawan-kawan yang lain, saat ini, saya sedang menggagas mendirikan semacam lembaga yang akan saya beri nama: Yayasan Pustaka Pesantren, dalam angan-angan saya gambaranya seperti ini:
Lembaga ini nantinya akan bergerak dalam 3 (tiga) kegiatan:
a. Pengadaan Gedung Perpustakaan dan memberikan bantuan buku,literatur, kitab,film dokumenter dan CD ROM tentang sains serta kitab klasik
b. Penerbitan kitab,buku dan newsletter. Para kiai atau santri yang mempunyai artikel atau naskah yang baik, akan diterbitkan.
c. Pelatihan, sebanyak mungkin melakukan pelatihan-pelatihan jurnalistik, tulis-menulis,baca membaca dan lain sebagainya, dari pesantren ke pesantren. Yang penting, budaya membaca terus tumbuh di kalangan pesantren. Meski sudah ketinggalan berabad-abad dibanding dengan “bangsa” yang lain.
Darimana dananya? ah, saya yakin yang mau baca tulisan ini saja, pasti mau bantu untuk mewujudkannya. Saya yakin itu. Misalnya, eh, PustakaPesantren mau bantu dirikan Perpustakaan AlGhazaly di Pondok Pesantren B, kita butuh semen 200 sak, Kayu 10M2,Batu Bata 10.000 biji, maket gambarnya seperti ini dan buku yang dibutuhkan sebagai stimulasi 1.000 judul, ayo siapa bantu? Pahalanya gede lho!Dibikin lelang terbuka di website, siapa yang mau jadi donatur material bangunan, Donator buku, Donatur Nara Sumber dan apapun yang dibutuhkan untuk keperluan ini, pasti terwujud.
Saya rasa, saat ini kita memiliki ‘alumni ‘ pesantren yang sudah mapan dan mempunyai “power”:Pak Dahlan Iskan, Arif Affandi,Pak Moh Nuh, Mas Ulil, Pak Burhanudin Abdullah, Abdul Hamid Wahid,Muamar Emka dan tokoh-tokoh lain, kalau kita bersama-sama meng”intrik” mereka, maka ribuan atau bahkan, jutaan literatur dan buku akan mengalir ke pesantren.
Walhasil, pada 15-20 tahun ke depan, hasilnya pasti sudah kelihatan. Kalau tidak segera kita mulai, kapan dimulainya? Saya tunggu dukungan dan komitmen kawan-kawan yang lain.
Insyaallah……
bagus tapi masih kurang banyak, harus banyak yang dukung. hari ini saya cuman bisa kirim buku buku tentang sepak bola ke alamat anda, semoga banyak yang nyusul, karena pesantren-pesantren kita gak cuman butuh satu macam buku aja
terimakasih atas dukungannya