AbdulAziz

Situs Pesantren untuk Anak

Posted in 29503 by Abdul Aziz on September 6, 2009

Penetrasi internet dalam setahun terakhir ini sungguh luar biasa. Siapapun-dimanapun dapat online, update berita terkini sampai aktif di banyak jejaring sosial yang ada. Belum lagi teknologi wimaxyang sebentar lagi mau segera dilaunching. Saya yakin, semakin murah dan semakin cepat internet–maka semakin banyak koneksi-interaksi sosial.

Saya sering mengamati anak saya, mulai kelas dua Madrasah dia memang sudah akrab dengan dunia internet. Namun memang saya sanagt batasi(kuno ya?). Kenapa? koq internet,main games saja sangat saya batasi,namun dengan bicara terbuka sama dia.Kenapa saya melarangnya,yang berarti bukan tidak memberikan kebebasan bermain.

Alasan Pertama:  waktu dia untuk berkumpul dan bersosialisasi dengan teman-temnya jelas berkurang. Katakanlah bermain internet dan games dalam sehari bisa sampai 6-8 jam.Maka dalam satu bulan akan tersita waktunya 240 Jam–Sepuluh hari lebih hilang waktu untuk bermain dan berkomunikasi “tradisional”.

Alasan Kedua: Saat ini belum ada situs khusus untuk anak Indonesia yang mumpuni,up date terus dan dikelola secara interaktif khusus untuk anak. Padahal, anak-anak TK pun saat ini sudah banyak yang mengunduh data dari internet. Sehingga, saya sangat takut dengan kondisi seperti ini(dan saya yakin iniproblem bagi orang tua lainnya)—kasihan anak-anak yang belum waktunya mengetahui.

Dari dua lasan tersebut: kenapa ya,saya tidak merintis :P esantrenCilik.Com sebagaimisal. Kontenya berisi tentang hal-hal yang terkait dengan dunia IT,BudiPekerti, Sejarah Nabi, Games, Tanya-jawab agama untukanak dan beberapa konten yang spesial untukapresiasi anak. Kalau perlu dibentuk koresponden santricilik—mulai dari JAwa,Sumatera,Singapura,London dan Amerika sekalian.

Ah,siapapeduli,ayokita mulai

14 Ramadlan

“Tanamlah Pohon Meski Esok Kiamat”

Posted in 29503 by Abdul Aziz on August 19, 2009

Awal tahun 1999, ketika saya menjadi staff LPSP-RMI merangkap menjadi desk Lingkungan di Majalah SANTRI sekaligus sebagai koordinator program kerjasama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat- Rabithah Ma’ahid Islamiah(Asosiasi Pesantren Seluruh Indonesia)  bekerjasama dengan Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI.

Program tersebut dimotori oleh DR  HM Ali Haidar sebagai Sekjend PP RMI yang kala itu harus bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk koordinasi dengan Bappenas dan semua lini birokrasi agar pesantren dapat dimasukkan dalam “agenda pembangunan” nasional. Mengingat sejarah dan bukti nyata kontribusi pesantren  yang sangat besar bagi bangsa. Namun, sungguh ironis nasib 13.000 lembaga pesantren  yang senantiasa terpinggirkan oleh pemerintah saat itu (atau sampai sekarang).

Isu lingkungan waktu itu masih belum menjadi sebuah domain di pesantren. Bahkan sebagian pesantren yang menerima program kehutanan malah curiga: Jangan-jangan ini trik Perhutani untuk cuci-tangan terhadap persoalan “gundulnya” hutan akibat salah urus manajemen mereka sendiri. Bahkan, tahun 1999 adalh puncaknya “gundulisasi” hutan diseluruh pulau Jawa. Setelah hutan habis oleh “orang abangan” ganti sekarang “orang hijau masuk”. Pendapat tersebut ada benarnya, ada salahnya—kalau saya berpendapat—salahnya pesantren dari dulu tidak pernah bisa mengejewantahkan “Ihyaul Mawat”. 

Pengetahuan saya sendiri terhadap masalah kehutanan sangat minim, Untung ada Pak Taufiq Setyadi seorang “kiai” yang menjadi “think-thank”nya perhutani dan Pak Roni S Syaroni dari SPEKTRA yang menjadi “ustadz kabir” saya dalam bidang kehutanan. Kami sering diskusi dengan beliau termasuk Pak Ali  di karangrejo XV(Kantor Pusat PP RMI)  sampai suntuk malam.

Di lapangan, saya banyak mendapatkan kendala, meski kesempatan yang diberikan pada dunia pesantren sungguh luar biasa. Pengetahuan dan konsentrasi pesantren terhadap dunia “hutan” sungguh sangat memprihatinkan. Desain “cash program” untuk stimulan saya rasa sudah cukup. Apapun motif karitatifnya untuk politik habibie atau apapun saya jauhkan dalam program ini. Yang penting pesantren “peduli hutan”.

Singkat cerita, saya matur Pak Ali Haidar dan KH Aziz Masyhuri untuk mendirikan pesantren rintisan di bidang khususon agroforestry. Di Blitar, saya mohon izin dan restu kepada KH Imam Sughrowardi untuk menyampaikan niat yang sama. Beliau langsung setuju dengan gagasan tersebut, Saya dan Pak Dimyathie disuruh memilih 2 pesantren yang bisa digunakan sebagi model: Jombor dan Sumberingin. Jombor dekat dengan hutan dan kali brantas sedangkan Sumberingin dekat dengan Hutan Maliran yang kurang lebih 750 Ha.

Saya bersama Kiai Dimyathi Koordinator program Kehutanan RMI Kabupaten Blitar, sepakat memilih Sumberingin Sanankulon Blitar. Pertimbangan saya: Masyarakatnya egaliter, dekat dengan hutan, dekat mata air—kalisirah, SDM mendukung dan Kiai Rofi’I (almarhum). Akhirnya, Saya, Kiai Rofii dan Kiai Dimyathie Bismillah mendirikan pesantren rintisan: Pondok Pesantren Wanatani—dibawah naungan Yayasan Shodiq Damanhuri.

Kalau pesantren salaf atau modern yang diurus para santri yang mondok. Tapi kalau Pesantren Wanatani yang diurus adalah para santri senior, Ustadz bahkan sampai Kiai Pesantren yang “nyantri” di Wanatani. Lho? Iya, Di Pesantren Wanatani programnya adalah semacam “Kursus pendek”, misalnya program pelatihan: Beternak Ayam Buras, Belajar bersama maestronya ayam: Pak Siswoyo sebagai guru, Atau belajar jurnalistik lingkungan, pesertanya para siswa-siswi SMA se Kabupaten Blitar, Ada juga pelatihan pembibitan kepada para santri se-Jawa Timur. Bahkan agenda-agenda kegiatan senantiasa penuh. Selain program pelatihan, pengajian salaf Kiai Rofii dan rintisan TK Alam Wanatani juga berjalan dengan baik. Bagaimanapun, dalam dunia pesantren dikenal istilah: walaupun ilmu satu ayat adalah guru…..

+++++++++++++++++++++

Tapi, mendirikan pesantren memang tidak semudah mendirikan perusahaan. Komponen pesantren itu: Kiai, asrama, masjid, santri dan masyarakat. Lima komponen tersebut  harus berjalan dengan irama yang pas. Apalagi punya niatan diluar itu, masyaallah, saya jamin 1000 persen tidak bisa jalan.

Pesantren Wanatani sempat “beku” beberapa saat, penyebabnya adalah: Ikhlasnya kurang dan tidak istiqomah!( untuk diri saya sendiri lho), Ditengah situasii tersebut, Kiai Rofi’I sudah “masuk sorga”,(Insyaallah) duluan. Malam sebelum meninggal, Kiai Rofii dengan nada penuh ikhlas telepon saya, saya masih ingat wasiat beliu: “Ziz, alhamdulillah pondok sing awake dewe rintis wis mulai jalan. Bocah-bocah wis podo iso mlaku dewe-dewe, kegiatan ya wis apik. Aku sumringah seneng ngene iki. Meski awakmu lagi susah, aku mung iso dunga…..”. Tak terasa, saya menitikkan air mata ketika mendapat telepon dari Kiai Rofii—Sahabat, guru sekaligus tempat curhat saya—-Esok paginya saya mendapat kabar—beliau meninggal dunia.

Dosa saya, lama sekali saya tidak “sambang” ke pesantren wanatani. Karena kondisi saya yang belum memungkinkan—badai krisis lima tahun ini tidak pernah berhenti. Lakon yang saya jalani mungkin lebih tepat—“petruk” dadi “butho”, kenapa? Apapun yang saya lakukan jadi jelek—ditambah utang sana-sini jumlahnya banyak sekali(gharim plus lah). Tapi Insyaallah, saya optimis, segera jadi petruk lagi. Beban Pesantren Wanatani tersebut selalu mengganggu akal sehat saya…terus bagaimana ya bisa jalan kembali. Sebuah gagasan besar, fasilitas sudah ada, masyarakat oke, tapi terhenti di jalan….Terhenti jalan pikiran saya—sampai tidak bisa mikir….Hanya do’a kali…

Tanggal 17 Agustus kemarin, di Facebook saya—ada sebuah pesan—yang membuat saya sangat senang—–inilah proklamasi sesungguhnya…..inti dari pesan tersebut: “Pesantren Wanatani saya lanjutkan!”.

Pesan tersebut dari salah satu kader Pesantren Wanatani yang dulu terlibat mulai a sampai z. Sungguh tiada kebahagiaan senikmat ini….Setelah 13 Tahun:Pohon itu mulai tumbuh—tumbuhlah terus….( Masyarakat menunggu buahnya. Insyaallah)

 

Bendosewu, 18 Agustus 2009

 

Makan “Suami”,siapa mau?

Posted in 29503 by Abdul Aziz on August 2, 2009

Indonesia memang kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Dari gunung, batubara, emas,tembaga, nikel sampai kenthut Lapindopun juga punya.
Saya kali ini cuma cerita saja tentang enaknya makan dimana-mana. Misal, kalau kita lagi di Jakarta, ada soto jakarta, di Banyumas ada Sroto, di Lamongan ada soto babad, kalau lagi di sulawesi jadilah Coto Makassar dengan sop konro yang enak itu. Dulu di kota Blitar ada “soto chepitan” di samping masjid Agung dan depan alun-alun kota–enaknya setengah mati. Kuahnya luar biasa enak…tapi sekarang tutup. Kalau pas di Surabaya, banyak juga soto legendaris: soto pak sadi, soto gebeng pojok atau kalau malam-malam mampir di soto belakang taman bungkul, weleh tambah enaak puol….
Ini belum Sate, tapi sate yang enak paling enak sedunia adalah sate Tulungagung depan kantor bupati Tulungagung…. wah aromanya luar biasa..
Atau, nasi ayam lodho mbah Yusuf di Trenggalek, Ibu Mamik Plosokandang juga lumayan ah pkoknya nbanyak benget.
Tapi, saya mau cerita: Mau makan suami?. Sabar, suami yang saya ceritakan adalah nama makanan khas buton. Waktu saya ditawari makan suami? saya kaget…wong saya sendiri adalah suami (suami yang baik lagi hehehe).
Suami bahanya dari tepung ketela pohon yang diparut dulu diambil sari patinya. Kemudian diperas sampai kering untuk dijemur. dimask kayak pakai cetakan tumpeng tapi ukurannya kecil. Makanya sama ikan asar (bakar asap) dengan sambal colo-colo khas maluku. Wah sedaap, Mau makan istri eh suami?

Togel dan Utang

Posted in bisnis-ku, bisnis-mu by Abdul Aziz on May 28, 2009

Saya hanya membahas sisi model bisnis, bukan sisi halal-dan haram togel.Banyak hal yang menarik dalam bisnis togel ini. Sudah sebulan ini saya tinggal di Komplek Pelabuhan Perikanan Nusantara Ambon. Menunggu kapal ikan saya yang lagi ngedog. Saya tinggal bersama seorang teman asal Sulawesi, saya tidak usah sebut namanya.

Teman saya, setiap hari kerjanya meramal,menulis angka-angka fantastis di puluhan lembar kertas yang berserakan di kamar kami. Kegiatan itu dilakukan karena musim ikan masih sepi. Pasang angkanya cukup via sms ke seorang bandar di Kota Ambon. Jam enam sore biasanya angka sudah keluar. Sekali pasang teman saya nombok berkisar seratus hingga empat ratus ribu rupiah. Setiap hari pasang.

Bahkan seorang teman saya lagi yang setiap hari pasang adalah pengusaha rumah makan ikan bakar yang cukup terkenal di Ambon. Penghasilannya dalam satu hari net bersih lebih dari 4-6 Juta rupiah dengan 30-an karyawan. Sebuah penghasilan yang fantastis untuk seukuran orang seperti saya. Anehnya, setiap hari juga pasang togel, adu nasib pasang satu sampai satu setengah juta rupiah pertombokan.

Dua orang teman saya tadi pasang togel, bukan karena miskin! tapi karena hobi peruntungan, atau apalah yang jelas telah rela mengeluarkan banyak rupiah untuk sekedar melepaskan stress atau bingung duitnya untuk apa.

Saya tidak membahas ini. Saya yang tewrtarik adalah jaringan kerja bisnis ini. Jutaan rakyat Indonesia setiap jam 6 sore WIB saya pastikan menunggu “pengumuman” dari para sang bandar. Para bandar inilah yang bertugas untuk mendistribusikan informasi nomor jitu kepada para nasabahnya. Triliunan rupiah saya pastikan omset dari bisnis ini. Para bandar jaringan sangat rapi, mulai dari pelosok desa sampai warung-warung kopi di sudut kota.

Ketika saya masih tinggal di Sidoarjo (saat ini saya sudah hijrah ke Maluku), tetangga saya yang kaya raya di daerah Taman Pinang digerebek polisi (kurang setoran kali). Beberapa unit komputer, fax dan barang bukti lainnya disita dibawa ke Mapolres. Eh ternyata jadi bandar togel yang cukup besar di wilayah Jawa Timur.

Bayangkan saja, jam enam sore pasang nomor diclose. Kemudian diumumkan secara serentak ke jutaan orang di seluruh penjuru nusantara dengan begitu singkat dan cepat. Mungkin quiqcount pemilu saja kalah cepat. Bahkan, dengan teknologi komunikasi seperti sekarang ini banyak situs-situs togel yang bergentayangan di dunia maya.

Informasi via sms dan situs internet, alamat situsnya kalau ndak salah di galaxy…com. Mau pasang: colok bebas, akle atau banyak model pilihan disediakan situs tersebut yang saya duga operatornya dari Singapura itu. Tapi, saya kira malah bukan di Singapura juga bisa, dari singaparna dikendalikan pakai BB pun bisa dilakukan. Betapa kayanya sang bandar menikmati keringat impian dari para petani, abang becak, kuli, buruh yang ingin kaya mendadak.

Saya sempat berpikir, kira-kira apa ya bisnis yang bisa meniru sistem togel tapi yang dibolehkan oleh syariat?.Kadang saya juga berpikir untuk bertindak, apa saya perlu ikut pasang togel untuk melunasi utang saya yang berjibun itu. Ah, semoga tidak. Naudzubillah

ambon, 26 mei 09

Ulil & Khutbah di Kapal

Posted in pergerakan by Abdul Aziz on January 19, 2008

Seminggu yang lalu, saya naik kapal PELNI Lambayu dengan
rute Surabaya-Makassar- BauBau -Ambon. Perjalanan
kapal membutuhkan waktu 3 (tiga) hari sampai tujuan.
Di Masjid kapal, selalu diadakan pengajian/qultum
sesudah sholat jamaah.

Berkali-kali saya dengar khutbah seperti ini:,”Kalau
Sdr Ulil Abshar Abdalla hidup pada zaman Sahabat Umar,
maka pedang telah menggorok lehernya”.

Speaker pengajian di dengarkan oleh semua penumpang
kapal, karena speaker kapal on dan live untuk seluruh
penumpang.

Telinga dan jiwa saya berontak, spontan khotib saya
“labrak”, saya berkata dengan sangat sopan kepada dia ,” pernah
ketemu,membaca, mendengar atau berdiskusi langsung dengan Ulil Abshar Abdalla tentang Islam?”. Sang Khotib dengan sopan pula menjawab
dengan polosnya,”belum! “.

Kalau begitu,”Jika Anda hidup di zaman Sahabat Umar, memfitnah orang tanpa dasar,
Maka tidak sekedar pancung yang menghukum Anda!”.

Su’udzon dan Toleransi

Posted in inspirasi by Abdul Aziz on January 12, 2008

Jum’at pagi, aku pergi dari Wahai menuju Masohi (ibu kota Kabupaten Maluku Tengah), jaraknya sekitar 180 Km dengan membayar ongkos angkut Panther Rp. 125.000. Perjalanan melalui Pegunungan SS. naik turun dengan tanjakan dan kelokan tinggi yang cukup melelahkan, sekitar 50Km jaraknya, dengan waktu tempuh satu jam lebih. Jalan pintas ini masih baru sekitar tiga tahun ini dibuka, sebelumnya untuk pergi dari wahai ke Masohi harus melaui jalur laut–naik speedboat ke Saka, baru naik mobil minibus Mulya Express (bersama kambing dan semua hasil bumi–berjubelan—sebuah pemandanagn khas Indonesia Timur).

Jam satu siang, aku sampai di Masohi.Langsung menuju Kantor Cabang BRI Masohi–dapat nomor antrian 281, aku lihat di antrian baru mencapai angka 111 yang sedang dilayani–oleh seorang petugas teller saja. Hari itu aku harus transfer ke Surabaya untuk pembelian unit trukguna menunjang bisnis kami di Maluku. Harga angkutan di Maluku Tengah luar biasa mahal. Sehingga harus kami putuskan untuk beli angkutan truk dari Surabaya. Selisihnya lebih dari 30jt dibanding dengan harga Surabaya. Jam 5 sore, aku baru bisa dilayani oleh teller (sungguh menyebalkan, pekerjaannya lambat sekali). Namun, aku bersyukur, karena masih dapat dilayani, sehingga tidak harus menginap lagi. Toh, hari Sabtu juga libur, bank tutup.

Sepulang dari Bank BRI, aku cari angkutan menuju Sawai, tempat dimana aku mulai merintis usaha laut di Maluku. Jaraknya sekitar 150Km, tapi lebih dari 100Km adalah hutan belantara, hutan Seram. Aku cari kendaraan di sekitar terminal Masohi dan depan penginapan Raudla,tempat dimana mobil Sawai,Wahai dan Kobisonta mangkal, akhirnya aku temukan juga, mobil taruna milik pak Haji– minta ongkos carter 500ribu, oke aku sku setujui. Untungnya ada dua penumpang yang mau pergi ke Ara-Ara (daerah usaha  budidaya tambak intensif modern yang dikelola PMA Jepang PT Nisshui Indonesia, dulu dikelola oleh Djayanti Group–sebuah perusahaan kroni Soeharto). Jadi, kami urunan bertiga. Tapi dengan perjanjian, aku hanya diantarkan sampai pertigaan Sawai, karena jalannya menuju Sawai dengan jarak 6,5 Km tidak dapat dilalui oleh kendaraan semacam Daihatsu Taruna. Lagi-lagi, aku setuju–daripada harus menginap lagi di Masohi. Artinya, ongkos lagi yang harus aku keluarkan dan harus menunggu kendaraan sampai keesokan hari, itupun kalau ada!.

Jam sembilan malam, kami sampai di pertigaan Sawai. Saya turun sendirian, jalan kaki dengan kondisi langit mendung mau turun hujan. Sebelum turun di pertigaan, aku sempat mengantarkan sopir Pak Haji meletakkan sesajen (telur, beras,kembang dan minyak wangi). Aku baru tahu, dua hari yang lalu, ada kecelakaan beruntun 3 mobil penjemput jemaah haji. satu anak usia empat tahun meninggal di tempat kejadian. Mobil yang saya tumpangi adalah kendaraan yang selamat dari musibah, karena mungkin mobil yang dikendarai adalah mobil yang ditumpangi jemaah. Aku pikir, klenik begini ternyata tidak hanya adat istiadat suku jawa saja. Anehnya, ketika aku mengantarkan untuk meletakkan sesajen di tempat kejadian bersama sopir, kami melihat ayam putih berdiri memandang kami dengan tajam.Pas di lokasi kejadian—ah tenang saja, mungkin itu adalah “sang penunggu”.

Aku jalan kaki di kegelapan, tidak membawa senter atau lampu sama sekali. Berkali-kali aku jatuh menabrak batang pohon atau batu-batuan ditengah jalan. Sekitar satu kilometer berjalan, aku putuskan untuk berhenti mencari bantuan pinjaman senter. Aku melihat kebawah ada rumah satu-satunya yang kelihatan lampunya menyala.” Pak–pak! saya minta tolong pinjami lampu!”, teriak saya dari atas. Tidak ada jawaban dari empunya rumah, daerah tersebut memang masih sangat rawan–paska konflik agama di Maluku beberapa waktu yang lalu–situasi hubungan Islam-Kristen sangat belum kondunsif. Padahal, saya tahu daerah tersebut adalah daerah basis kampung Ubed(sebuah sebutan untuk wilayah/desa yang mayoritas penduduknya adalah memeluk agama kristen). Saya nekat saja meminta tolong, karena memang tidak ada pilihan. Aku panggil lagi, akhirnya ada jawaban. “Silahkan turun ke bawah, masuk rumah!”, jawab tuan rumah yang terlihat sangat jelas membawa parang. Dua anjing besar menyambut saya dari bawah, menggonggong dengan sangat keras sekali. Aku berpikiran pasrah aja, tuan rumah membawa parang dan mengeluarkan dua ekor anjingnya. Ah, saya pikir suasana Natal pasti tidak terjadi apa-apa. Saya yakin itu, karena di depan rumah tersebut ada pohon natal yang terbuat dari bambu.Bersahaja dan khidmah sekali.

Begitu saya masuk rumah dengan sikap waspada, aku kaget sekali. Sekitar 15 orang laki-laki dan dua orang wanita ada di dalam rumah. Dan dua ekor anjing yang terus menyalak tadi ikut masuk ke dalam rumah. Aku melempar senyum kepada mereka dengan salam hangat aku sampaikan, tak lupa mengucapkan selamat merayakan natal. Saya dipersilahkan duduk di atas amben (karena di dalamnya tidak ada kursi). Aku lihat sorot matanya sudah tidak curiga lagi, saya lihat para lelaki itu sudah meletakkan parangnya kembali.Aku lega…

Ternyata apa yang aku duga sebelumnya tidak terbukti, orangnya ramah-ramah, aku dibikinkan minuman kopi panas, yang aku lihat dapurnya kelihatan sekali dijilati anjing yang menyambut aku tadi. Ah, dalil, terpaksa aku keluarkan, karena takut menyinggung tuan rumah,terpaksa aku minum sekaligus makan kue singkong yang masih panas-panas hangat,nikmat!. Selain selamat natal, aku ceritakan tentang hubunganku dengan para pendeta dan uskup sangat baik di Jawa. Ada Romo Lugano(alm), Pendeta Simon dan Rm Benny.Ketika saya cerita tentang gereja, mereka diam saja, tidak ada yang menyahut. Ketika aku cerita Romo di Jawa, mereka diam membisu. Aneh,aneh sekali! (dalam isi kepalaku, aku membayangkan kengerian luar biasa seperti alur cerita  sebuah film hollywood tentang kanibalisme di tengah hutan Arizona–sebuah film yang aku tonton di theater  kapal Lambeyu, Surabaya-Ambon)

Salah satu di antara mereka bicara:

“Kami semua disini adalah Muslim!” Jelas Udin menjelaskan tiba-tiba, karena mungkin mereka tahu, bahwa aku kebingungan melihat mereka,Udin yang aku lihat adalah sesepuh yang ada di rumah tersebut, karena kelihatan diantara mereka adalah yang paling senior. Mereka akhirnya menjelaskan, bahwa mereka adalah para pekerja borongan yang berasal dari Tehoru sedang membangun jalan makadam menuju sawai. Dua anjing tadi adalah milik yang punya rumah di desa Masihulan, 2km dari tempat tersebut. Sehingga sebagai rasa terimakasih dapat penginapan rumah, mereka biarkan anjing ikut mereka.

Aku terbengong-bengong dan takjub, subhanallah—kami berangkulan. Bahwa aku telah suudzan dan salah sangka—akhirnya kami putuskan untuk menginap di rumah tersebut dengan tempat tidur beralaskan daun mendong. Tapi, seperti biasa kami tidak tidur, tapi saling berbagi cerita sampai pagi. Jam sembilan pagi aku lanjutkan jalan kaki menuju Sawai, tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak-banyak kepada mereka.

Pelajaran yang aku peroleh:

Pertama: Jangan su’udzan kepada siapapun. Kedua: Yakin sesuatu yang buntu pasti ada jalan keluarnya, keberanian dan keyakinan kuat adalah salah satu kunci. Ketiga:persahabatan dan persaudaraan adalah salah satu modal menuju nikmatnya hidup.